liburan, kota wisata, pemandian pariban, telaga warna, gembiraloka, pantai legian, hutan mangrove pik

Budaya Adat Suku Banggai Menjadi Ciri Khas yang Perlu dilestarikan

Penelusuran budaya adat suku banggai, bapidok baku atau menanam ubi endemik Daerah Banggai Sulawesi Tengah. Selain ubi Banggai, Tilalu juga menjadi ciri khas musik warga suku Banggai untuk mengenang orang-orang yang penting dihidup mereka. Alunan nada Tilalu sangat unik dengan bunyi yang diiramakan nonstop tanpa jeda untuk mengatur napas pemainnya.Tilalu Budaya Adat Suku Banggai

Suku Banggai merupakan suku asli yang mendiami kepulauan Banggai di kabupaten Banggai Kepulauan dan kabupaten Banggai di provinsi Sulawesi Tengah. Suku Banggai terdiri dari dua kelompok, yaitu suku Banggai Kepulauan yang berada di kabupaten Banggai Kepulauan provinsi Sulawesi Tengah, dan suku Sea-sea (atau suku Banggai Pegunungan) yang berada di daerah pegunungan di kabupaten Banggai provinsi Sulawesi Tengah.

Kembali pada tradisi Banggai, ada sangat banyak dari tradisi yang melekat dalam masyarakat yang memang sangat menarik, musik yang di antaranya; batongan, kanjar, libul dan lain sebagainya, juga ada tarian, yang termasuk Onsulen, Balatindak, Ridan dll, juga cerita rakyat atau legenda yang sangat banyak yang di kenal dengan nama Banunut, lagu atau puisi yaitu Baode, Paupe dan masih banyak lagi kesenian tradisional lainnya, ada beberapa tradisi ini yang masih dipegang secara menyeluruh dari suku Banggai, misalnya pada saat perayaan Maulid Nabi Besar Muhammad saw, para masyarakat suku Banggai akan membuat sejenis kue yang di beri nama Kala-kalas, ada juga yang menyebutnya kaakaras.

Kue ini tebuat dari tepung beras yang bentuk jadinya di goreng, dan kue ini sangat unik sekali, bahkan hanya akan di jumpai pada saat perayaan Maulid Nabi saw saja. Selain itu, masih banyak tradisi lainnya, Upacara Adat misalnya, upacara pelantikan Tomundo, upacara pelantikan Basalo, dan lain sebagainya

Di provinsi Sulawesi Tengah tepatnya di Kabupaten Banggai terdapat suku bangsa yang cukup besar yang disebut suku Banggai.

Kelompok masyarakat tradisional ini begitu menjunjung tinggi tradisi bahkan sampai saat ini ada beberapa upacara adat yang masih tetap lestari.

 

Berikut 3 budaya adat suku banggai selain bapidok baku atau menanam ubi

Upacara Adat Suku Banggai Pelantikan Tomundo

Upacara Adat Suku Banggai yang pertama adalah Tomundo. Suku Banggai dikepalai oleh seorang Tomundo atau seorang raja yang mempunyai 12 orang menteri dari kalangan bangsawan.

Upacara pelantikan Tomundo berarti upacara untuk mengangkat seorang raja baru yang akan memimpin Suku Banggai beberapa periode ke depan.

Pemilihan Tomundo sendiri didasarkan pada asas musyawarah, begitu juga dengan pemilihan para pembesar kerajaan.

Walaupun demikian, tidak sembarang orang bisa menjadi Tomundo Suku Banggai, kecuali mereka memang memiliki keturunan khusus dari Banginsa.

Sedangkan yang menjadi ujian pengangkatan Tomundo dilihat dari kecerdasan dan perilakunya di tengah-tengah masyarakat.

Ketika calon Tomundo sudah ditentukan, maka langkah berikutnya adalah proses pelantikan yang harus dijalankan sesuai prosedur.

Biasanya, pelantikan Tomundo dilangsungkan di hadapan Basalo Sangkap sejenis komite adat di Suku Banggai Sulawesi Tengah

Tomundo terpilih juga harus melewati ritual tertentu yang salah satunya adalah duduk di pangkuan salah satu anggota Basalo Sangkap.

Setelah itu, dia harus menduduki sebuah batu yang dianggap sebagai perwakilan dari tomundo-tomundo Suku Banggai sebelumnya.

Sembari melakukan ritual ini, perwakilan Basalo Sangkap terus memberikan nasehat kepada Tumundo untuk bisa berlaku adil dan bijaksana ketika memimpin suku.

Budaya Adat Banggai Molabot Tumpe

Upacara Adat Suku Banggai selanjutnya adalah Molabot Tumpe. Sulawesi Tengah tepatnya di Kabupaten Banggai terdapat satu tradisi berupa upacara adat yang masih tetap lestari sampai saat ini.

Upacara adat tersebut bernama Molabut Tumpe yang menurut informasi terbaru, upacara sudah berlangsung selama 4 ribu tahun lebih.

Ritual Molabut Tumpe dilakukan oleh hampir seluruh suku bangsa yang ada di Kabupaten Banggai tanpa terkecuali juga dilakukan oleh masyarakat dari Suku Banggai.

Mereka akan berbondong-bondong mengantar telur maleo yang disebut tumpe ke Kerajaan Banggai.

Uniknya, mereka mengantar telur tidak menggunakan transportasi darat melainkan dengan menaiki kapal laut.

Telur Maleo harus berjumlah 85 butir yang sebelumnya harus diinapkan terlebih dahulu di rumah adat selama semalam penuh.

Setelah itu, baru diantarkan ke dermaga dengan diiringi musik pengiring berupa drum dan rebana.

Penonton tidak boleh berada di depan pembawa telur, tetapi harus berada di belakang dan si pengantar tidak boleh berhenti sebelum tiba di dermaga.

Tradisi Malabut Tumpe wajib terlaksana karena masyarakat sekitar beranggapan kalau ritual ini bisa menjadi sarana untuk mencegah bencana.

Sedangkan awal mula munculnya upacara adat disinyalir berasal dari jaman Kerajaan Banggai yang disebut Kerajaan Benggawi yang berdiri gagah di tahun 1600an.

Basalo Sangkap Budaya Adat Suku Banggai

Upacara Adat Suku Banggai  yang masih sering dilakukan adalah acara Basalo Sangkap.

Basalo Sangkap sejenis komite adat yang mengurus segala macam keperluan politik di Suku Banggai termasuk yang memilih pemimpin adat baru yang disebut Tomundo.

Untuk menjadi Basalo, masyarakat juga harus melewati upacara adat tertentu, yang tidak jauh berbeda dengan ritual pelantikan Tomundo.

Calon Basalo juga bukan orang sembarangan melainkan memang calon terpilih dari 4 sub kerajaan yang berada di Banggai.

Mereka harus keturunan Basalo sebelumnya yang memiliki kecerdasan dan berperilaku baik.

Nantinya, mereka inilah yang akan memegang kekuasaan untuk melantik bahkan memberhentikan Tomundo dan Basalo setelahnya.

Seorang calon Basalo harus memiliki jiwa keadilan dan bijaksana karena hanya karakter inilah yang membuat masyarakat bisa menggantungkan harapannya dengan tenang.

Maka dari itu, bisa dipastikan tidak akan lolos Basalo jika si calon memiliki perilaku tidak baik atau pernah melakukan tindakan melanggar hukum.