Breaking News

Kegiatan Menjelang Gerhana Matahari Total dibeberapa Tempat di sekita Kota Palu

Ads By Google

Menjelang Gerhana Matahari Total beberapa kegiatan yang dilakukan dibeberapa Tempat di sekita Kota Palu cukup menarik perhatian beberapa warga. Kegiatan yang bukan dilakukan oleh warga setempat, namun di lakukan oleh orang-orang asing dari berbagai negara di Dunia. Seperti yang dalangsir dalam berita kabarselebes.com.

Ada pemandangan lain di Kota Palu selama dua pekan ini. Di sejumlah poros utama di Kota Palu kita pasti akan menemukan beberapa orang asing lalu lalang, baik berjalan kaki, mengendarai sepeda motor maupun menyetir mobil sendirian atau berombongan.

Mirip di Bali memang. Namun, jika di Bali bule-bule itu datang khusus melihat destinasi wisata dan keindahan Pulau Dewata, maka di Palu bule-bule itu datang khusus untuk satu momen. Gerhana Matahari Total (Total Solar Eclipse).

Di empat hari menjelang Gerhana Matahari Total (GMT) ini, data kasar yang diperoleh media ini menyebutkan ada seribuan wisatawan mancanegara sudah berada di Palu. Wisatawan manca negara yang mayoritas berasal dari eropa khusus datang ke Palu untuk menyaksikan langsung fenomena alam GMT.

Bule-bule yang banyak berseliweran di Kota Palu ini ternyata beraktivitas di sebuah perkampungan baru di Desa Ngatabaru, Kabupaten Sigi Sulawesi Tengah. Desa yang terletak sekitar 10 kilo meter dari Kota Palu ini kini disulap menjadi “Kampung Bule” dan sudah dipenuhi oleh sejumlah wisatawan dari berbagai negara di eropa dan asia.

Para warga asing ini sudah berada di Palu sebulan sebelum gerhana matahari total. Namun ada pula yang baru sepekan berada di Palu. Dari seribuan warga asing, mayoritas mereka adalah turis yang datang hanya untuk menyaksikan fenomena alam GMT. Sisanya adalah ilmuwan yang khusus datang untuk kepentingan penelitian.

Di perkampungan baru ini contohnya. Sejumlah bule terlihat sibuk membangun bangunan dari bambu dengan berbagai bentuk. Salah satunya adalah bangunan bambu berbentuk ikan piranha. Di tempat yang dibangun di atas ketinggian Kota Palu ini, nantinya akan diisi dengan berbagai kegiatan termasuk pesta musik dari berbagai genre.

Para bule ini terlihat sibuk dengan urusan masing-masing. Tak ubahnya warga lokal, bule-bule ini tak canggung untuk bekerja membangun sendiri bangunan yang terbuat dari bambu khusus untuk digunakan saat GMT tanggal 9 Maret 2016 nanti.

Bahkan, hampir di semua sisi lahan seluas 5 hektar di atas ketinggian Desa Ngatabaru ini, terlihat bule-bule sedang bekerja layaknya tukang kayu. Dari menggergaji bambu, memikul kayu, memaku, menggali tanah hingga membuat desain-desain unik seperti kapal luar angkasa, ikan, miniatur menara eifel, stadion hingga kapal layar raksasa yang kesemuanya dibuat dari bambu.

“Bambu-bambu ini kami beli dari warga lokal sebanyak 5.000 batang bambu. Semua dari Palolo,” kata Antonie Merger, seniman dan arsitek asal Perancis.

Bahkan, di salah satu lembah ada sebuah bangunan berbentuk ikan piranha yang ternyata akan dijadikan club station dan dijadikan tempat pesta musik saat GMT.

“Kami membangun club station untuk techno music. Dan kami dalam satu tim dengan panggilan tim colective dari meksiko. Kami tiga dari meksiko. Kami punya beberapa teman untuk membantu membangun ini. Dua dari perancis empat dari amerika,” kata Alejandro, wisman dari Mexico Jumat (4/3/2016).

Di perkampungan baru yang disebut kampung bule ini nantinya akan menjadi salah satu lokasi pemantauan gerhana matahari total. Sejumlah ilmuan juga akan berada disini untuk merekam detik-detik gerhana matahari total.

Bukan hanya di Desa Ngatabaru, lokasi lain yang menjadi destinasi pemantauan berada di anjungan nusantara Kota Palu dan puncak Matantimali. Seluruhnya dipilih menjadi lokasi pemantauan dikarenakan dari lokasi tersebut dipastikan proses gerhana mulai dari awal hingga akhir bisa terlihat dengan jelas.

Demikian informasi tambahan yang dapat deberikan terkait peristiwa alam gerhana matahari total di Palu.

Scroll To Top