Breaking News

Bawang Goreng Palu yang Mendunia Dengan Rasa Renyah

Ads By Google

Bawang goreng palu sebagai identitas dengan rasa renyah. Identitas sebuah kota dapat terwujud dari bentuk fisik kota sebagai akumulasi dari budaya serta sumber daya alam yang tumbuh dan berkembang di dalamnya. Identitas baru dapat saja muncul atau ditambahkan pada identitas sebelumnya. Begitu pula halnya dengan Wisata Kuliner di Kota Palu, yang ternyata turut berperan dalam membentuk maupun menambahkan identitas sebuah kota. Salah satu kuliner yang ada kota Palu adalah bawang goreng Palu.

Ciri Khas Bawang Goreng Palu

Bawang Goreng di Palu memiliki ciri khas tersendiri, selain terasa wangi bawang yang cukup tajam, rasa bawang goreng palu terasa lebih gurih dan kepingan-kepingan bawangnya renyah. Bukan hanya itu, bawang goreng ini jika disimpan dalam waktu lama bisa awet hingga setahun. Pemilik beberapa usaha yang ada di kota Palu menyebutnya bawang goreng yang berbahan baku bawang batu. Jenis bawang ini berkembang dengan baik di Lembah kota Palu dan Kabupaten Sigi dengan kualitas nomor satu yang memiliki kandungan air sangat minim.

Sebahagian besar yang pernah mencoba bawang goreng ini akan merasa ketagihan, namun bagi yang tidak pernah mencobanya, akan bertanya seperti apa rasa dari bawang goreng ini? Seperti diketahui bahwa di Indonesia banyak tumbuh bawang dan telah banyak yang membuat bawang goreng di rumahnya sendiri terutama ketika sedang masak-masak? Mengapa bawang goreng palu dapat menjadi ciri khas oleh-oleh kota palu?


Beberapa pertanyaan di atas, yang membuat bawang goreng di Palu menjadi unik karena bahan dasarnya, yaitu terutama jenis bawangnya. Bawang ini hanya dapat tumbuh di tanah Kota Palu, dan menurut beberapa orang yang telah mencobanya tidak bisa tumbuh di kota lain di Indonesia, bahkan di beberapa daerah di Provinsi Sulawesi Tengah. Rasanya, gurih dan tidak ada sedikitpun rasa pahit yang tersisa di lidah, berbeda dengan bawang goreng biasanya.

bawang goreng paluKota Palu memiliki buah tangan yang unik, yaitu bawang goreng, dan bagi orang luar telah mengenalnya dan memberikan nama bawang goreng Palu. Hal ini karena bawang goreng palu telah menjadi identitas kota Palu. Bawang memang bisa tumbuh di daerah mana saja, namun bedanya bawang yang tumbuh di wilayah Palu berbeda karena bentuknya lebih lebar dan tebal. Saat digoreng rasanya juga lebih renyah dan menghasilkan wangi yang tajam. Rasa nikmat gurihnya ternyata muncul karena bawang yang ditanam bergantung cuaca Palu dan hanya diberi sedikit air.

Bawang goreng Palu telah melanglang buana

Bawang goreng Palu telah melanglang buana, bahkan telah mendunia, untuk menjadi mendunia, tentu bawang goreng palu ini punya cerita. Cerita itu berasal dari seorang wanita bernama ibu Sri. Ia dijuluki raja bawang goreng karena merupakan promotor pertama bawang goreng di Palu.

Ibu sri adalah seorang pendatang asal Yogyakarta yang merantau ke Palu pada tahun 1969. Awal kedatangan Mbok Sri dari Yogyakarta ke Sulawesi Tengah pada saat itu adalah untuk menjadi pembantu Raja Kaili bernama Daeng Maraja Lamakarate yang ada di Kabupaten Donggala. Ibu Sri ini lah yang mengenalkan bawang goreng palu.

Kaili adalah suku terbesar di Sulawesi Tengah yang ada di Kabupaten Sigi, Kota Palu, Kabupaten Donggala, serta sebagian di Kabupaten Parigi Moutong dan Kabupaten Poso. Awal mula kedatangan perempuan bernama lengkap Hardjo Sriyono ini adalah dari perkenalannya dengan putra Raja Kaili yang kala itu sedang sekolah di Yogyakarta.

Saat itu, sang putra raja sering kehabisan uang untuk kebutuhan studi atau keperluan hidup sehari-hari. Kala itu belum ada sistem transfer uang via bank. Telepon atau alat telekomunikasi canggih lainnya yang bisa menghubungkan Yogyakarta dan Sulawesi Tengah berjarak ribuan kilometer juga belum ada. Mbok Sri kerap meminjamkan uang kepada sang putra raja untuk keperluan sekolah. Saat itu belum dikenal bawang goreng palu.

Olehnya, keberadaan Mbok Sri pada waktu itu sangat berjasa bagi sang putra Raja Kaili. Kemudian Mbok Sri yang saat itu berusia 37 tahun diajak ke Sulawesi Tengah untuk mengabdi kepada keluarga raja. Mbok Sri pun menyanggupinya demi membantu perekonomian keluarganya. Inilah cikal bakal sampai Mbok Sri memperkenalkan bawang goreng palu.

Kerajaan di Sulawesi Tengah tidak seperti yang ada di Pulau Jawa dengan keraton dan daerah kekuasaan yang luas. Namun kerajaan itu berupa bangunan rumah panggung dari kayu dengan luas ratusan meter persegi yang dikenal dengan Sou Raja atau rumah mbaso yang berarti rumah besar. Di situlah hidup Raja Kaili bersama keluarganya.

Mbok Sri bersama seorang anak perempuannya mengabdi di kediaman Raja Kaili sekitar dua tahun. Beberapa tahun berikutnya, ia menjadi pembantu di rumah dua pekerja asal Inggris yang saat itu sedang mengerjakan proyek pengairan Gumbasa.

Pada mulanya kedua orang bule itu sudah berusaha mencari pembantu namun tak kunjung berhasil hingga akhirnya bertemu Mbok Sri. Mbok Sri sendiri memberanikan bekerja pada orang bule itu karena semasa kecilnya dia juga pernah bekerja pada seorang Belanda di Yogyakarta, tetap sebagai pembantu. Kepindahan Mbok Sri juga sudah mendapat restu dari Raja Kaili.


Saat bekerja di kediaman orang bule di wilayah Bumi Nyiur atau sekarang di Jalan S Parman Kota Palu, Mbok Sri sering memiliki waktu luang. Kedua bule itu meninggalkan rumah dari pagi hingga sore hari. Di saat waktu luangnya itu, Mbok Sri dan anaknya mencoba membuat abon daging sapi serta bawang goreng beberapa toples. Hasil buatannya ia tawarkan dari rumah ke rumah, kantor ke kantor, dan dari sepanjang jalan yang dilewatinya. Sebuah proses yang panjang untuk memperkenalkan sebuah kuliner yang bernama bawang goreng palu.

Proses membuat bawang goreng palu

Proses membuat bawang goreng palu secara diam-diam itu ia lakoni selama sekitar lima tahun, hingga akhirnya dua bule majikannya pulang ke Inggris karena proyek irigasi Gumbasa telah selesai pada 1980. Mulai saat itu, perempuan yang sekarang abon ikan paluberusia 81 tahun menekuni bisnis dengan modal simpanan dan pesangon dari bule sebesar Rp. 200 ribu. Dengan perjuangan dan keuletan, bawang goreng palu buatan Mbok Sri mulai dikenal, dan usahanya mulai berkembang.

Saat itu, masyarakat Palu dan sekitarnya belum mengetahui kalau bawang merah di daerahnya memiliki cita rasa gurih dan garing jika dibuat bawang goreng. Bawang merah asal Palu memiliki umbi kecil sehingga lebih keras dan sangat cocok dibuat bawang goreng, sedangkan bawang merah biasa cepat layu jika digoreng. Sebuah ciri khas bawang yang tidak dimiliki daerah lain selain di daerah Palu, sehingga dikenal dengan nama bawang goreng palu.

Bawang goreng palu ini lantas jadi oleh-oleh andalan setiap orang yang datang ke Palu. Sebut saja Menteri Ekonomi Kreatif dan Pariwisata Marie Elka Pangestu, pengusaha kosmetika Mooryati Soedibyo dan Dewi Motik, sudah jadi langganan tetap ibu Sri. Tak jarang para pegawai negeri dari Jakarta yang sedang dalam perjalanan dinas ke Palu, membanjiri toko Sri demi memborong bawang goreng palu. Oleh-oleh buat kolega tentunya.

Berkat jasa ibu Sri, Kota Palu kini terkenal dengan bawang gorengnya yang gurih. Bawang goreng Palu kini tidak hanya tersebar di seluruh Indonesia. Tapi telah sampai di korea selatan, Australia, Belanda dan juga Amerika karena rasanya yang mendunia. Hal yang kemudian muncul karena besarnya peluang usaha bawang goreng palu tersebut, tak sedikit orang yang meniru ibu Sri dan ikut menjual bawang goreng.

Akhirnya, usaha bawang goreng di Kota Palu, Sulawesi Tengah, bermetamorfosis menjadi usaha yang ikonik. Aneka variasi dan rasa bawang goreng bermunculan. Saat ini ada seratusan pelaku usaha kecil menengah (UKM) pembuat bawang goreng di Kota Palu. Selain komoditasnya khas, usaha ini juga membawa dampak ekonomis yang cukup signifikan. Di samping menyerap tenaga kerja, pelaku usahanya sejahtera.

Bagi yang ingin berwisata ke Palu jangan lupa untuk mencicipi bawang goring ini, dan saat ini terdapat banyak pelaku usaha yang menawarkan bawang goreng palu. Bawang goreng palu dapat dijumpai disetiap sudut kota, sehingga mudah untuk di dapatkan.

Harga Bawang Goreng Palu

Pertanyaan terakhir bagi yang berminat menikmati bawang goreng palu adalah berapa harga jual bawang goreng ini?. Mengenai harga bawang goreng cukup bervariasi dan biasanya tergantung kualitas pembuatannya. Jenis bawang yang digunakan biasanya sama untuk setiap pengusaha, namun yang membedakan adalah proses pembuatannya. Harga jual yang lebih mahal bawang goreng dihasilkan cukup kering. Sedangkan yang sedikit lebih murah masih terdapat kandungan minyak. Harga jual juga dipengaruhi oleh ketersediaan bahan baku di petani bawang. Pada musim hujan, ketersediaan bawang sangat sedikit, karena bawang ini tidak tahan terkena dengan air hujan, dan cenderung petani tidak menanam. Sehingga ketersediaan bahan baku paling banyak ketika musim panas. Harga rata-rata yang ditawarkan di beberapa tokoh di kota Palu adalah sebagai berikut :

Ukuran 100gr = Rp. 25.000 – 30.000,-
Ukuran 200gr = Rp. 50.000 – 60.000,-
Ukuran 500gr = Rp. 100.000 – 120.000,-
Ukuran 1Kg = Rp. 200.000 – 250.000,-

Scroll To Top